Jumat, 11 Oktober 2019

Orang-orang yang didoakan malaikat

✍  Ustadz Kholid Syamhudi, Lc

1. Orang yang TIDUR dalam keadaan bersuci

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa “Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”.
(Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar rodhiAlloohu anhuma, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk MENUNGGU WAKTU SHOLAT.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia’”
(Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiAlloohu anhu, Shahih Muslim no. 469)

3. Orang – orang yang berada di SHAF barisan DEPAN di dalam shalat berjamaah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan”
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib rodhiAlloohu anhu, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang – orang yang MENYAMBUNG SHAF pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang – orang yang menyambung shaf – shaf.”
(Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah rodhiAlloohu anha, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan ‘AMIN’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.”
(Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiAlloohu anhu, Shahih Bukhari no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Para malaikat akan selalu bershalawat kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang – orang yang melakukan shalat SHUBUH dan ‘ASHAR secara BERJAMA’AH.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiAlloohu anhu, Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang menDO’A-KAN saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’”
(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ rodhiAlloohu anha, Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang – orang yang berINFAK.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit."
(Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah rodhiAlloohu anhu, Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010)

10. Orang yang sedang makan SAHUR.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada orang – orang yang sedang makan sahur.”
(Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar rodhiAlloohu anhu, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang MENJENGUK orang SAKIT.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.”
(Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib rodhiAlloohu anhu, Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”)

12. Seseorang yang sedang MENGAJARKAN KEBAIKAN kepada orang lain.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda,

“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.”
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)

http://www.salamdakwah.com/artikel/85-siapa-saja-yang-didoakan-oleh-malaikat

Editor : Admin Asy-Syamil.com

📡 Raih amal shalih dengan menyebarkan kiriman ini , semoga bermanfaat.
Jazakumullahu khoiron.

•═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•
📮CHANNEL MULIA DENGAN SUNNAH
🌐 https://t.me/MuliaDenganSunnah
🔄 https://t.me/RisalahSunnah
👥 https://bit.ly/JoinGrupKami
🗳 bit.ly/Asy-SyamilcomDonasi
💠️ FB : https://goo.gl/tJdKZY
🛰 App : bit.ly/AsySyamilApp
📱 Admin : 081381173870

Sabtu, 31 Oktober 2015

Hukum Menurunkan Pakaian [ISBAL] Bagi Laki-Laki

Oleh
Syaikh Abdullah Bin Jarullah Al-Jarullah
HUKUM MENURUNKAN PAKAIAN (ISBAL) BAGI PRIA
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Apa yang ada di bawah kedua mata kaki berupa sarung (kain) maka tempatnya di neraka" [Hadits Riwayat Bukhari]
Dan beliau juga berkata lagi:
"Artinya : Allah tidak akan melihat orang yang menyeret sarungnya karena sombong".
Dan dalam sebuah riwayat yang berbunyi :
"Artinya : Allah tidak akan melihat di hari kiamat kepada orang-orang yang menyeret pakaiannya karena sombong." [Hadits Riwayat Malik, Bukhari, dan Muslim]
Dan beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda :
"Artinya :
Ada tiga golongan yang tidak akan dilihat oleh Allah hari kiamat, tidak dilihat dan tidak disucikan (dari dosa) serta mendapatkan azab yang sangat pedih, yaitu pelaku Isbal (musbil), pengungkit pemberian dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu." [Hadits Riwayat Muslim, Abu Dawud, Turmudzi, Ibn Majah, Nasa'i]
Musbil (pelaku Isbal) adalah seseorang yang menurunkan sarung atau celananya kemudian melewati kedua mata kakinya. Dan Al Mannan yang tersebut pada hadist di atas adalah orang yang mengungkit apa yang telah ia berikan. Dan orang yang menjual barang dagangannya dengan sumpah palsu adalah seseorang yang dengan sumpah palsu ia mempromosikan dagangannya. Dia bersumpah bahwa barang yang ia beli itu dengan harga sekian atau dinamai dengan ini atau dia menjual dengan harga sekian padahal sebenarnya ia berdusta. Dia bertujuan untuk melariskan dagangannya.
Dalam sebuah hadist yang berbunyi :
"Artinya : Ketika seseorang berjalan dengan memakai prhiasan yang membuat dirinya bangga dan bersikap angkuh dalam langkahnya, Allah akan melipatnya dengan bumi kemudian dia terbenam di dalamya hingga hari kiamat. [Mutafaqqun 'Alaihi]
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda :
"Artinya : Isbal berlaku pada sarung, gamis, serban. Siapa yang menurunkan sedikit saja karena sombong tidak akan dilihat Allah pada hari kiamat." [Hadits Riwayat Abu Dawud dengan sanad Shahih]
Hadist ini bersifat umum. Mencakup pakaian celana dan yang lainnya yang yang masih tergolong pakaian. Rasulallah Shallallahu 'alaihi wassalam mengabarkan dengan sabdanya :
"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak menerima shalat seseorang yang melakukan Isbal." [Hadits Riwayat Abu Dawud dengan sanad yang shahih. Imam Nawawi mengatakan di dalam Riyadlush Shalihin dengan tahqiq Al Arnauth hal: 358]

10 Perkara Yang Tidak Bermanfaat


Ada sepuluh perkara yang tidak bermanfaat:
1. Ilmu yang tidak diamalkan.
2. Amal yang tidak ikhlas dan tidak sesuai dengan contoh Rasul shallallahu 'alaihi wasallam .
3. Harta yang tidak diinfakkan. Pemiliknya tidak dapat menikmatinya di dunia tidak juga menjadi pahala di akhirat.
4. Hati yang kosong dari mencintai Allah dan rindu untuk bertemu dengannya.
5. Badan yang tak digunakan untuk ketaatan.
6. Cinta yang tak diikat dengan keridlaan yang dicintai dan menjalani perintahnya.
7. Waktu yang kosong dari dari kebaikan.
8. Pikiran yang berfikir dalam perkara yang tak bermanfaat.
9. Berkhidmat kepada orang yang tidak mendekatkan diri kita kepada Allah tidak juga untuk kebaikan dunia.
10. Takut dan berharap kepada sesuatu yang tidak dapat memberikan manfaat tidak juga mudlarat, tidak memiliki kehidupan tidak juga kematian.
(Al Fawa-id hal. 146).
✏ Oleh: Ust. Ustadz Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى
____________________

Minggu, 25 Oktober 2015

Yang Telah Banyak Ditinggalkan

Banyak ditemui di zaman ini..
Orang yang memamerkan ibadah-ibadahnya..
Penuntut ilmu yang membanggakan banyaknya kitab yang sudah dikaji..
Pengajar yang membanggakan banyaknya mad'u..
Orang kaya bersedekah dengan liputan media..
Sampai ibu rumah tangga yang setiap hari memajang foto masakan untuk memamerkan kepiawaiannya memasak.
Itulah fenomena saat ini, didukung dengan perkembangan media terutama internet dan media sosial yang membuat banyak orang senang mempublikasikan setiap kegiatannya, kehebatannya, ibadahnya, kedermawanannya, sampai hal sekecil-kecilnya, untuk mencari ketenaran, komentar berupa dukungan, pujian, atau bahkan sekedar acungan jempol.
Yang lebih mengherankan, sebagian orang bahkan mempublikasikan amalan yang sebenarnya jarang atau tidak ia lakukan! Na'udzubillah.
Bila kita membuka lembaran-lembaran sejarah Para Salaf, akan kita dapati kisah-kisah keikhlasan dan semangat menyembunyikan amalan mereka dari pandangan orang, yang akan membuat kita malu.
Amalan mereka besar tapi mereka menyembunyikannya sedangkan amalan kita begitu kecil, tetapi kita memamerkannya.
Amalan mereka begitu rapat tersimpan, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah, diri mereka, terkadang sebagian orang terdekat mereka, bahkan beberapa di antaranya tidak diketahui siapa pun dan baru terungkap setelah mereka wafat.
Sungguh sesuatu yang langka dan telah banyak ditinggalkan di zaman ini.
■ Telah banyak ditinggalkan di zaman ini, menyembunyikan ibadah.
◆ Seperti 'Abdurrahman Bin Abi Laila yang apabila ia sholat sunnah di rumahnya, kemudian merasa ada seseorang yang melihatnya maka ia membatalkan sholatnya dan segera berbaring di atas ranjangnya seakan-akan sedang tidur.
Sampai orang yang melihatnya menyangka ia adalah orang yang banyak tidur. Tidak ada yang mengetahui bahwa sesungguhnya ia banyak mendirikan sholat sunnah.
◆ Atau, seperti Ibrahim An Nahkho'i yang menghabiskan waktunya untuk  membaca Al Qur'an, maka apabila ada seorang laki-laki masuk ke rumahnya ia segera menutupi mushaf dan berkata: "Supaya ia tidak melihatku membaca mushaf setiap saat."
◆ Atau seperti Daud Bin Abi Hind disebutkan bahwa ia telah berpuasa selama 40 tahun tanpa ada seorang pun dari keluarganya yang mengetahuinya, karena bila pagi hari ia berangkat bekerja, ia membawa bekal dari rumahnya.
Maka keluarganya menyangka ia tidak berpuasa, ketika di jalan ia menyedekahkan bekalnya, dan ketika pulang di penghujung hari, ia ikut makan malam bersama keluarganya.
◆ Atau kisah Ayyub As Sakhiitani rahimahullah yang mendirikan sholat sepanjang malam dan menyembunyikannya, sehingga apabila bangun di pagi hari, ia mengeraskan suaranya seakan-akan baru saja bangun tidur.
■ Telah banyak ditinggalkan di zaman ini, menyembunyikan kekhusyu'an dan kezuhudan.
◆ Seperti Abul Hasan Muhammad bin Aslam At Thowusi yang sering menangis ketika membaca Al Qur'an, maka setiap hendak keluar rumah ia selalu mencuci wajahnya untuk menghilangkan bekas menangis.
◆ Atau seperti Ibrahim Bin Adham, sebagaimana dikatakan oleh Ibnul Mubarok: "Orang yang suka menyembunyikan amal, aku tidak pernah melihatnya mengeraskan tasbih, atau memperlihatkan amal sholih.
Dan tidaklah ia makan bersama dengan orang-orang kecuali ia yang terakhir mengangkat tangannya dari makanan, untuk menampakkan ia bukan termasuk orang yang zuhud.

Mempelajari Issue Wahabi

Menarik untuk disimak WAHABI (Sesat) Yang Sesungguhnya..!!
(Sebuah penyimpangan pemikiran yang perlu diluruskan)
Wajib diketahui oleh setiap Muslimin dimanapun mereka berada bahwasanya firqah Wahabi adalah Firqah sesat, yang ajarannya sangat berbahaya sehingga wajib dihancurkan.
Tentu hal ini membuat kita bertanya-tanya, mungkin bagi mereka yang PRO akan merasa marah dan sangat tidak setuju, dan yang KONTRA mungkin akan tertawa sepuas-puasnya.
Maka siapakah sebenarnya Wahabi ini?
Bagaimanakah sejarah penamaan mereka?
Mari kita simak dialog ilmiah yang sangat menarik antara Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy-Syuwai’ir dengan para masyaikh/dosen-dosen di sebuah Universitas Islam di Maroko.
Salah seorang Dosen itu berkata: “Sungguh hati kami sangat mencintai Kerajaan Saudi Arabia, demikian pula dengan jiwa dan hati kaum muslimin pada umumnya, dimana setiap kaum muslimin sangat ingin pergi kesana, bahkan antara kami dengan kalian sangat dekat jaraknya. Namun sayang, kalian berada diatas suatu Madzhab, yang kalau kalian tinggalkan tentu akan lebih baik, yaitu Madzhab Wahabi.”
Kemudian Asy Syaikh dengan tenangnya menjawab: “Sungguh banyak pengetahuan yang keliru melekat dalam pikiran manusia, yang mana landasan pengetahuan tersebut tidak bersumber dari referensi terpercaya, dan mungkin kalian pun mendapat isu/kabar yang tidak tepat dalam hal ini.
Baiklah, agar pemahaman kita menyatu dalam bingkai syar'i, maka saya minta kepada kalian dalam diskusi ini agar mengeluarkan argumen-argumen yang diambil dari sumber-sumber yang terpercaya, dan saya rasa di Universitas ini terdapat perpustakaan yang menyediakan kitab-kitab sejarah islam terpercaya. Dan juga hendaknya kita semaksimal mungkin menjauhi sifat Fanatisme dan Emosional.”
Dosen itu berkata : “saya setuju denganmu, dan biarkanlah para Masyaikh yang ada dihadapan kita menjadi saksi dan hakim diantara kita.”
Asy-Syaikh berkata : “saya terima, setelah bertawakal kepada Allah, saya persilahkan anda melontarkan masalah sebagai pembuka diskusi kita ini.”
Dosen itu pun berkata : “Baiklah kita ambil satu contoh, ada sebuah fatwa yang menyatakan bahwa firqah wahabi adalah Firqah yang sesat. Disebutkan dalam kitab "Al-Mi’yar" yang ditulis oleh Al Imam Al-Wansyarisi, beliau menyebutkan bahwa "Al-Imam Al-Lakhmi pernah ditanya tentang suatu negeri yang disitu orang-orang Wahabiyyun membangun sebuah masjid, “Bolehkah kita Sholat di Masiid yang dibangun oleh orang-orang wahabi itu?”.
Maka Imam Al-Lakhmi pun menjawab: “Firqah Wahabiyyah adalah firqah sesat, yang masjidnya wajib dihancurkan, karena mereka telah menyelisih jalannya kaum mu’minin, dan telah membuat bid’ah yang sesat dan wajib bagi kaum muslimin mengusir mereka dari negeri-negeri islam".
(Perlu kita ketahui bahwa Imam Al-Wansyarisi dan Imam Al-Lakhmi adalah ulama Ahlusunnah wal jama'ah)
Dosen itu berkata lagi : “Saya rasa kita sudah sepakat akan hal ini, bahwa tindakan kalian adalah salah selama ini,”
Kemudian Asy-Syaikh menjawab : ”Tunggu dulu..!! kita belum sepakat. Lagipula diskusi kita ini baru dimulai, dan perlu anda ketahui bahwasannya sangat banyak fatwa seperti ini yang dikeluarkan oleh para ulama sebelum dan sesudah Al-Lakhmi. Untuk itu tolong anda sebutkan terlebih dahulu kitab yang menjadi rujukan kalian itu!”
Dosen itu berkata: ”Anda ingin saya membacakan fatwanya saja, atau saya mulai dari sampulnya?”
Asy-Syaikh menjawab: ”Dari sampul luarnya saja.”
Dosen itu kemudian mengambil kitabnya dan membacanya: ”Namanya adalah "Kitab Al-Mi’yar", yang dikarang oleh Ahmad bin Muhammad Al-Wansyarisi. Wafat pada tahun 914 H di kota Fas, Maroko.”
Kemudian Asy-Syaikh berkata kepada salah seorang penulis di sebelahnya: “Wahai syaikh, tolong catat baik-baik, bahwa Imam Al-Wansyarisi wafat pada tahun 914 H. Kemudian bisakah anda menghadirkan biografi Imam Al- Lakhmi?”
Dosen itu berkata: “Ya.”
Kemudian dia berdiri menuju salah satu rak perpustakaan, lalu membawakan satu jilid dari salah satu kitab-kitab yang mengumpulkan biografi ulama. Di dalam kitab tersebut terdapat biografi Ali bin Muhammad Al-Lakhmi, seorang Mufti Andalusia dan Afrika Utara.
Kemudian Asy-Syaikh berkata : “Kapan beliau wafat?”
Yang membaca kitab menjawab: “Beliau wafat pada tahun 478 H“
Asy-Syaikh berkata kepada seorang penulis tadi: “Wahai syaikh, tolong dicatat tahun wafatnya Syaikh Al-Lakhmi” kemudian ditulis.
Lalu dengan tegasnya Asy-Syaikh berkata : “Wahai para masyaikk..!! Saya ingin bertanya kepada antum semua. Apakah mungkin ada ulama yang memfatwakan tentang kesesatan suatu kelompok yang belum ada (lahir)? kecuali kalau dapat wahyu?”
Mereka semua menjawab : “Tentu tidak mungkin, Tolong perjelas lagi maksud anda!”
Asy-syaikh berkata lagi : “Bukankah wahabi yang kalian anggap sesat itu adalah dakwahnya yang dibawa dan dibangun oleh Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab?”
Mereka berkata : “Siapa lagi?”
Asy-Syaikh berkata: “Coba tolong perhatikan!! Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir pada tahun 1115 H dan wafat pada tahun 1206 H.
Nah, ketika Imam Al-Lakhmi berfatwa seperi itu, jauh RATUSAN TAHUN lamanya sebelum syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab lahir, bahkan sampai 22 generasi ke atas beliau belum ada yang lahir, apalagi berdakwah!!
KAIF?? GIMANA INI??” (Merekapun terdiam beberapa saat).
Kemudian mereka berkata: “Lalu sebenarnya siapa yang dimaksud Wahabi oleh Imam Al-Lakhmi tersebut? Mohon dielaskan dengan dalil yang akurat, kami ingin mengetahui yang sebenarnya!”
Asy-Syaikh pun menjawab dengan tenang: “Apakah anda memiliki kitab "Al-Firaq Fii Syimal Afriqiya", yang ditulis oleh Al-Faradbil, seorang berkebangsaan Perancis?”
Dosen itu berkata: “Ya ini ada.”
Asy-Syaikh pun berkata: “Coba tolong buka di huruf “Wau”. Maka dibukalah huruf tersebut dan munculah sebuah judul yang tertulis “Wahabiyyah“.
Kemudian Asy-Syaikh

Sabtu, 24 Oktober 2015

Isi kitab Assiyasah syar'iah oleh Syeikh Muhammad bin Soleh Utsaimin

السلام عليكم 

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره, ونعوذ باالله من شرور انفسنا, ومن سيئات اعمالنا, من يهده الله فلا مضل له, ومن يضلل فلا هادي له. ونشهد أن لا إله الا الله وحده لاشريك له  ونشهد أن محمدا 

Alhamdulillah, atas kurnia Allah s.w.t saya dapat membaca kitab terjemahan Ta'liq Siyasah Syar'iah yang dikarang oleh seorang tokoh ulama' yang disegani iaitu Syeikh Muhammad bin Soleh Utsaimin. Pada asalnya kitab Siyasah Syar'iah ini ialah kitab yang dinukil daripada pemikiran tokoh terkemuka di dunia Islam, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah lalu dita'liq oleh  Syeikh Muhammad bin Soleh Utsaimin. Kitab ini yang pada asasnya membicarakan bab politik dan pemerintahan yang digunakan daripada kaedah Rasulullah s.a.w itu sendiri. 

Daripada kitab terjemahan ini,saya akan memberi beberapa pandangan peribadi yang saya yang fakir ini atas sedikit ilmu yang saya ada. Matan-matan arab yang tidak dapat disertakan di sini amat dikesali dan sebarang teguran boleh diutarakan.
Segala isi di dalam penulisan ini (seperti hadis) adalah bersumberkan kitab ini dan sebarang sumber lain akan dinyatakan di mana rujukannya.

 *Hakcipta oleh penerbit kitab ini ialah:
(Edisi Indonesia)
GRIYA ILMUJl. Raya Bogor # H. Rafi'i No. 24A Rambutan - Jakarta Timur 13830

Definisi as-Siyasah asy-Syar'iah dalam pengertian khusus adalah "Segala hal yang bersumber dari pemegang kebijakan (penguasa), seperti hukum dan peraturan-peraturan yang bergantung pada adanya kemaslahatan dan dalam permasalahan yang tidak memiliki dalil khusus lagi spesifik tanpa menyalahi syari'at. (ms 14) 

Seperti yang kita sedia maklum, pensyariatan terhadap ketaatan kepada pemimpin itu sudah diwajibkan ke atas umat Islam berdasarkan ayat al-Qur'an di dalam surah an-Nisa' ayat 59 yang biasa kita dengar dikhutbah Jumaat masjid-masjid selatan tanah air kita.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍۢ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌۭ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur`an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
[an-Nisa' ayat 59]

Ayat ini menyuruh kita mentaati pemimpin dalam kalangan kita sendiri, bermaksud bahawa pemimpin itu kita pilih sendiri daripada kalangan kita. Bukan dari pihak luar ataupun mereka yang mengaku mendapat kuasa pemerintahan daripada Tuhan sepertimana teori "divine right" yang dipraktikkan oleh tamadun Barat sewaktu zaman gelap mereka. Sesiapa sahaja tidak boleh mempersoalkan apa sahaja tindakan pemerintah mereka walaupun kejam sekalipun dan mendapat sokongan daripada pemutar belit agama iaitu golongan agamawan mereka yang menggunakan nama "gereja" dan "agama".
Berlainan dengan Islam, pemimpin itu dipilih oleh Allah pada asalnya seorang Rasul iaitu Muhammad s.a.w. Rasul ini bukanlah daripada makhluk yang lain, tetapi seorang manusia juga, dan hamba kepada Allah juga. Walaupun Rasulullah s.a.w itu dilantik oleh Allah, namun tidaklah baginda sewenang-wenangnya membuat keputusan secara sesuka hatinya. Bahkan baginda juga meminta pendapat dan cadangan para sahabat daripada proses musyawarah dalam sesuatu isu untuk membuat keputusan.
Di dalam ayat ke 58 surah yang sama di atas, Allah memerintahkan pemimpin itu supaya menjalankan amanat dengan baik dan bersikap adil terhadap rakyatnya.

 إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا۟ ٱلْأَمَٰنَٰتِ إِلَىٰٓ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُم بَيْنَ ٱلنَّاسِ أَن تَحْكُمُوا۟ بِٱلْعَدْلِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُم بِهِۦٓ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ سَمِيعًۢا بَصِيرًۭا
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
[an-Nisa' ayat 58]

Ini menunjukkan sebelum kita diperintahkan oleh Allah supaya taat setia kepada pemerintah kita, mereka terlebih dahulu diberi arahan supaya menjalankan amanah dan bersikap adil terhadap sesiapa yang mereka perintah.
Seorang pemerintah tidak boleh ditaati sekiranya keputusan yang mereka lakukan itu bertentangan dengan  syariat Islam itu sendiri berlandaskan hadis daripada riwayat Ibn Umar:

السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ حَقٌّ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِالْمَعْصِيَةِ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Mendengar dan taat adalah haq (kewajipan) selama tidak diperintah berbuat maksiat. Apabila diperintah berbuat maksiat maka tidak ada (kewajipan) untuk mendengar dan taat.”         
[Riwayat Bukhari]

Sebagai pemimpin kaum Muslimin,mereka perlu memilih orang yang paling layak untuk memangku jawatan khas di bawah pemerintahannya. Jawatan yang khas ini contohnya dalam konteks tempat dan zaman sekarang ialah seperti kabinet dan ketua hakim negara atau ketua polis negara. Pemimpinlah yang bertanggungjawab untuk memilih yang terbaik dalam kalangan kelompok walaupun tidak sehaluan pemikiran atau agenda politik.
Ini berdasarkan hadis:

"Barangsiapa yang menugaskan seseorang kepada suatu kelompok sementara dia menemukan dalam kelompok tersebut seorang yang lebih baik dari orang itu, maka sungguh dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman"
[Riwayat al-Hakim di dalam Sahihnya]

Pemimpin itu perlulah memilih mereka yang layak sahaja untuk memangku sesebuah jawatan, jangan hanya memilih mereka yang mempunyai persamaan pemikiran kerana itu akan mengakibatkan wujud pengeksploitasian kuasa. Tiada "check and balance" antara satu sama lain lalu yang menjadi mangsa ialah rakyat apabila masing-masing membela ahli mereka sendiri daripada sebarang kesalahan.
Mungkin ada diantara kita yang mengatakan bahawa "kami memang tak kenal si fulan,tapi kami pilih dia berdasarkan sijil yang dia ada". Benar kata-kata ini, tetapi jika kita dapati mereka tidak mampu untuk menjalankan tugas dengan amanah, cekap lagi bersih perlulah untuk kita memberhentikan perkhidmatan mereka atau memberi jawatan lain yang sesuai dengan mereka. Bahkan dalam konteks zaman sekarang setiap pekerjaan itu ada satu jabatan khas yang ditugaskan untuk menilai prestasi kita. Hal ini dapat kita pelajari di dalam ilmu "pengurusan sumber manusia". Seperti contoh badan yang bebas daripada kuasa kerajaan ialah Jabatan Audit Negara yang baru-baru ini telah membongkar segala penyalahgunaan kuasa golongan pentadbir awam di Malaysia.
Bahkan Umar al-Khattab, seorang khalifah bagi tamadun Islam yang agung pada masa itu tidak memilih keluarga beliau untuk memangku jawatan di bawah pentadbiran beliau. Anaknya, Abdullah bin Umar itu hanya mendapat jawatan sebagai pengawas biasa sahaja. Itulah contoh yang terbaik dapat kita lihat di zaman khalifah Umar al-Khattab.

Seorang pemimpin juga ialah mereka yang dipilih oleh orang dalam kalangan rakyat itu sendiri tanpa meminta jawatan itu sendiri sama ada secara langsung atau tidak langsung. Inilah sunnah yang sebenarnya berdasarkan hadis:

"Sesungguhnya Kami tidak melimpahkan urusan kami ini kepada orang yang memintanya"
[Riwayat Bukhari dalam kitab al-Ahkam dan Muslim dalam kitab al-Imarat]


Orang-orang yang didoakan malaikat

✍  Ustadz Kholid Syamhudi, Lc 1. Orang yang TIDUR dalam keadaan bersuci Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Barangsiapa yang tidur ...